Nurani masih hidup?

Seperti biasa, 1 kali dalam sebulan saya dan Trias (suami) akan mengalami ini: duduk kelelahan di dalam bus DAMRI yang membawa kami dari bandara ke daerah Blok M (untuk kemudian dijemput dan pulang sampai ke rumah).
Kalau sudah ‘napakin kaki’ dan ‘ngebau-in’ hawa JKT.. duh, rasanya memang selangit banget! Kangen rumah, kangen urban life-nya, kangen lampu-lampunya yang terang-benderang -- yang pasti kita jadi ceria dan cerewet karena lega. Nothing beats your own hometown!
Dan lagi asyik-asyiknya ngobrol (saat itu bus DAMRI baru berhenti di terminal arrival luar negeri), masuklah segerombolan orang: 1 bapak tua, 1 wanita usia 40-an, dan 2 anak kecil perempuan. Sepertinya mereka adalah satu keluarga. Bangku di DAMRI sudah penuh. Saya melirik sebentar ke arah mereka dengan prihatin, lalu kembali berbicara dengan Trias; membahas segala rencana pada short visit ini.. sampai akhirnya Trias mendadak berdiri.
Saya tahu gelagat ini; dimana konversasi kita akan segera berakhir karena Trias akan merelakan tempat duduknya pada salah satu dari mereka. Si ibu rupanya sudah duduk lebih dahulu. Jadinya yang duduk di sebelah saya adalah si pak tua. Segala rasa bercampur di hati saat itu: kesal (karena obrolan terputus), heran, takjub -- tapi yang paling dominan adalah kagum.
Saya menatapi Trias dari tempat saya duduk, lama. Dia satu-satunya orang yang berdiri di situ. Padahal perjalanan masih jauh, ditambah macet pada jam pulang kantor begini. Kemungkinan baru 2 jam lagi kita akan sampai di Blok M. Kata Trias, ini mengingatkan pada jaman kuliah dulu. Saya tidak bisa ikut mencicipi pengalamannya itu karena saat kuliah (walaupun kita kuliah di kampus, jurusan, dan pada angkatan yang sama pula), saya selalu diantar-jemput oleh supir.
Saya selalu kagum pada orang yang berusaha menjaga nuraninya tetap hidup, karena orang yang seperti itu ‘rela capek’; capek berusaha berbuat baik, capek dijahatin balik sama orang dan berusaha tidak membalasnya, capek menjaga sikap yang santun, capek mencari tempat sampah demi nggak nyampah sembarangan, capek memperjuangkan hal yang baik dan benar, capek mengontrol kata-kata ketika berbicara agar tidak menyakiti lawan bicara...
Itu bukan perkara yang mudah -- buktinya, bukan saya yang (refleks) berdiri dan memberi bangku saat itu :)





