Thursday, August 09, 2007

Nurani masih hidup?


Seperti biasa, 1 kali dalam sebulan saya dan Trias (suami) akan mengalami ini: duduk kelelahan di dalam bus DAMRI yang membawa kami dari bandara ke daerah Blok M (untuk kemudian dijemput dan pulang sampai ke rumah).

Kalau sudah ‘napakin kaki’ dan ‘ngebau-in’ hawa JKT.. duh, rasanya memang selangit banget! Kangen rumah, kangen urban life-nya, kangen lampu-lampunya yang terang-benderang -- yang pasti kita jadi ceria dan cerewet karena lega. Nothing beats your own hometown!

Dan lagi asyik-asyiknya ngobrol (saat itu bus DAMRI baru berhenti di terminal arrival luar negeri), masuklah segerombolan orang: 1 bapak tua, 1 wanita usia 40-an, dan 2 anak kecil perempuan. Sepertinya mereka adalah satu keluarga. Bangku di DAMRI sudah penuh. Saya melirik sebentar ke arah mereka dengan prihatin, lalu kembali berbicara dengan Trias; membahas segala rencana pada short visit ini.. sampai akhirnya Trias mendadak berdiri.

Saya tahu gelagat ini; dimana konversasi kita akan segera berakhir karena Trias akan merelakan tempat duduknya pada salah satu dari mereka. Si ibu rupanya sudah duduk lebih dahulu. Jadinya yang duduk di sebelah saya adalah si pak tua. Segala rasa bercampur di hati saat itu: kesal (karena obrolan terputus), heran, takjub -- tapi yang paling dominan adalah kagum.

Saya menatapi Trias dari tempat saya duduk, lama. Dia satu-satunya orang yang berdiri di situ. Padahal perjalanan masih jauh, ditambah macet pada jam pulang kantor begini. Kemungkinan baru 2 jam lagi kita akan sampai di Blok M. Kata Trias, ini mengingatkan pada jaman kuliah dulu. Saya tidak bisa ikut mencicipi pengalamannya itu karena saat kuliah (walaupun kita kuliah di kampus, jurusan, dan pada angkatan yang sama pula), saya selalu diantar-jemput oleh supir.

Saya selalu kagum pada orang yang berusaha menjaga nuraninya tetap hidup, karena orang yang seperti itu ‘rela capek’; capek berusaha berbuat baik, capek dijahatin balik sama orang dan berusaha tidak membalasnya, capek menjaga sikap yang santun, capek mencari tempat sampah demi nggak nyampah sembarangan, capek memperjuangkan hal yang baik dan benar, capek mengontrol kata-kata ketika berbicara agar tidak menyakiti lawan bicara...

Itu bukan perkara yang mudah -- buktinya, bukan saya yang (refleks) berdiri dan memberi bangku saat itu :)

Tapi, kalau kita mau terus menggemburkan tanah di hati, memberikan pupuk secara konsisten, serta menghindari diri dari hama serta parasit yang mengganggu... saya yakin si nurani akan terus lestari. Dan kali ini... giliran kita yang “berdiri”.

Tuesday, May 01, 2007

Menjadi Kakak Bukan Sekadar Usia Lebih Tua

Sejak kecil hanya saya dan Anggie, adik perempuan saya, di keluarga. almarhum ayah selalu mengajarkan:
“Jaga adik kamu.”
“Jangan marahin Adek di depan orang-orang. Selalu nasihatin di belakang layar. Mbak mengerti?”
“Adek bukan tanggung jawab Ayah-Ibu saja, tapi juga Mbak sebagai kakak.”

Intinya, sebagai kakak dan anak tertua, pertumbuhan, perkembangan, kesuksesan, dan kegagalan Anggie, adalah pertumbuhan, perkembangan, kesuksesan, dan kegagalan saya juga sebagai kakaknya.

Family bond adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, lalu diturunkan—dan diterapkan secara kontinyu oleh ayah dan ibu kepada kami. Semua dimulai dari keluarga. Semua diajarkan dari keluarga. Kalau melihat orang nggak benar di ‘luar’, di masyarakat, bisa dibayangkan bagaimana dia di lingkungan keluarganya.

Ajaran ayah-ibu seringkali terdengar lebih keras di telinga adik saya. Mungkin karena ia lebih soft-hearted dari saya, dan memang pribadinya pun lebih legowo. Sebagai kakak dan teman yang seumuran dengannya, saya berusaha dengan telaten (walau kadang itu sulit, karena justru kita berdua sebaya, jadi temper besar, kesabaran masih minim) mengingatkannya, menasihatinya. Mempersiapkannya untuk terjun ke masyarakat, when the time is right.

Anggie selalu bilang,”Mudah bagi Mbak. Orang sehebat, sesempurna Mbak.” Kalau mendengar ini, seringkali saya sedih. Kenapa saya harus bersaing dengan adik sendiri? Saya benci persaingan kalau terjadi di dalam keluarga, karena itu bisa menjadi penyebab perpecahan. Sifat kompetitif saya biasanya luntur dengan sendirinya kalau sedang di antara keluarga. Tapi yang lebih penting dari itu, misi saya belum selesai: Adek harus percaya pada kekuatan dan kemampuan yang akan ia bangun sendiri.

Prinsip saya simpel: take it, or leave it. Kalau ingin hidup, berarti kita harus ‘hidup’ di dalamnya. Take it.
Mau mati? Itu lebih mudah lagi (ini perkataan ibu saya): ‘Berani mati’ lebih mudah daripada ‘berani hidup’, karena hidup memang sulit. Menjalaninya sulit. Bahkan saking sulitnya sebagian besar orang jadi pilih bersikap ‘heroik’ dengan berani mati saja.

Jadilah saya berkali-kali menyebutkan prinsip dan pemahaman tersebut kepada Adek, dengan tambahan,”Jalani aja. Kamu pasti bisa, Dek.”

Kini, klimaks saya sebagai kakak telah tercapai. Setelah perjalanan panjang menyelesaikan studinya (yang jauh lebih sulit baginya, daripada bagi saya), Anggie telah diterima bekerja di bank swasta, bagian back-office, sesuai preferensinya. Saya teringat masa-masa itu.. sebagai kakak.. saya selalu mengingatkannya (sampai kadang saya putus asa sendiri): “Kamu pasti bisa, Dek.”

Hari ini hari pertama Anggie bekerja. Saya dan suami hanya bisa kirim doa dan semangat via SMS mengingat kita berdua masih ‘stranded’ di Bangka.

Dan ia pun membalasnya: Ha3x, maacih ya Mbak, Aa.Td mlm aku juga mimpiin ayah selametin aku, ayah wangi bgt, wangi CK B-nya,sambil meluk aku & blg klo apa yg ibu,mbak&ade lakuin tnp hrs cerita ayah,ayah pasti tau.Aku sneng+sedih+kangen,campur aduk.Have a nice day ya.Mmuach dr aku+ibu+ayah ;)

Aren’t we glad being a big sis?

Sunday, March 25, 2007

Menjadi Biasa Itu... Susah

Inka Sungkowo adalah mahasiswi semester 3 yang aktif pada organisasi nirlaba bidang lingkungan hidup. Sama seperti remaja urban lainnya; ia suka jalan-jalan dan makan bareng teman-temannya seusai kuliah, baca majalah remaja, sesekali shopping bareng di mall. Namun Inka merasa hidupnya hampa dan begitu-begitu saja. Ia bukan selebriti, walaupun ia punya potongan itu. Ia gemas melihat hutan di Indonesia yang semakin rusak, tapi ia sadar suaranya tidak akan didengar kalau ia speak-out hanya sebagai “Inka Sungkowo” saja. Inka pun mengikuti ajang pemilihan Ratu Indonesia, dan berkat pengetahuannya yang mendalam seputar kehutanan dan pendayagunaan energi yang efektif dan ramah-lingkungan bagi Indonesia, Inka menyabet gelar “Ratu Lingkungan Hidup” tahun ini beserta paket hadiahnya yang fantastis: menjadi perwakilan Indonesia dalam konferensi lingkungan hidup tingkat Asia, kontrak dengan produk kosmetik ternama, sampai menjadi bintang tamu spesial dalam sebuah TV show ternama. Inka sangat senang dan bangga akan prestasinya yang dicapainya dan dalam hitungan hari ia sudah menjadi ‘aset’ Yayasan Ratu Indonesia dalam menjalankan kampanye-kampanye humanioranya, hingga akhirnya ia terdampar di dunia showbiz. Inka lupa akan niat dan determinasi awalnya: untuk menyelamatkan hutan Indonesia lewat “suaranya” yang kini kian berpengaruh. Jadwal syutingnya kian padat, padahal belum satupun kegiatan penyelamatan lingkungan hidup yang sebenarnya dijalankan. Ia hanya boneka cantik yang selalu tersenyum, berpose, dan melambai-lambaikan tangan, bukannya aktifis lingkungan yang turun langsung memberi contoh bagi masyarakat Indonesia: apa saja upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menjadi penyelamat masa depan alam Indonesia. Menyadari keterlenaannya ini, Inka mengambil sikap kontroversial di antara para finalis Ratu Indonesia lainnya: segera setelah kontrak berakhir, Inka minta izin untuk hengkang dari kegiatan Yayasan Ratu Indonesia untuk selamanya karena ia ingin berkonsentrasi menyelesaikan studinya di fakultas Teknik Lingkungan. Lima tahun kemudian, nama Inka Sungkowo dikenal sebagai konsultan teknik lingkungan yang cerdas dan inovatif. Sebagian besar orang bahkan tidak tahu bahwa dulu pernah ada embel-embel “Ratu Indonesia” menempel pada wanita muda ini. Walau begitu, ia tetap Inka yang cantik dan menarik walau sering menelusuri pelosok pedalaman negeri dengan jeans dan sepatu boots. Kehidupan Inka jauh dari keglamoran dan sorotan kamera--kecuali ketika ia sedang melaporkan temuan teknologi yang dirakit dirinya bersama tim kerjanya. Setelah menilik ke belakang, Inka sangat bersyukur dan sama sekali tidak menyesali keputusannya. Ia merasa telah menjadi “ratu” yang sebenarnya.

Sudah pada nalurinya, manusia selalu ingin menggapai lebih, dan lebih lagi. Lalu pada saat ‘kepentok’ karena ketinggian, barulah dia diam, merenung sejenak, dan sadar, bahwa di atas langit masih ada langit lagi.

Inka menyadari bahwa setelah satu kesuksesan tercicipi, mereka akan terus dan terus haus akan bentuk kesuksesan/pencapaian (penaklukan?) lainnya. “Menjadi biasa” a.k.a : melakukan sesuatu bukan dengan tujuan disorot orang / tidak mencari pemberitaan diri sendiri yang tidak memberi manfaat bagi orang banyak / berkarya tanpa pamrih, tanpa ingin menjadi buah bibir sensasional khalayak ramai / sudah mampu beli Jaguar tapi tetap mengendarai Kijang, dan ribuan analogi lainnya (dimana kamu pasti bisa menemukan lebih banyak lagi contoh konkritnya dalam kehidupan sehari-hari) ... adalah niatan mulia sekaligus pekerjaan yang sangat sulit. Kita memiliki ego, hawa napsu, dan sifat dasar yang ‘tidak pernah puas’ dan ‘ingin selalu mencapai lebih’. Pada usia dan muda, peperangan batin perihal ini akan selalu terjadi; nurani vs. ego + hawa napsu.

Inka mendengar bisikan harafiah nuraninya untuk bersikap begitu.
Bagaimana dengan kita--saya, kamu, dan kalian?
Mari, sama-sama mencoba.

Friday, February 09, 2007

You Get What You Give


Pernah terpikir mengapa ada orang yang terlihat beruntung melulu, dan ada yang kelihatannya sial melulu? Kita selalu iri melihat orang yang (kayaknya) dapat enak melulu dan cenderung berpikir “sudah jalannya” kalau melihat orang yang sebaliknya.

Melihat keadaan yang sering lalu-lalang di sekitar kita seperti itu, kita hanya simpel berpikir bahwa memang ada orang yang terlahir kaya, dan sebagian besar orang terlahir miskin. Tapi, kita tidak pernah menyadari (apalagi mencankam) bahwa: “Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai”.

You get what you give.

Selama ini seringkali kita menilai sesuatu dari luarnya saja, kan?
“Enak ya si Chika bokap-nyokapnya tajir. Kalau ke Zara bisa langsung ngeborong yang dia mau tanpa tunggu sale”. Atau, “Wah si Andre ke sekolah ganti mobil melulu. Punya berapa sih di rumah?” Di satu sisi ada juga yang seperti ini: “Kasihan Midia ya, harus bersekolah di sekolah billingual kayak kita gini. Kayaknya keluarganya biasa-biasa aja, deh. Kok bisa? Beasiswa kali? Atau saudaranya kepala sekolah?”

Keadaan seseorang yang serba-enak atau serba-susah di permukaan tidak bisa dijadikan harga mati kehidupan seseorang. Mungkin saja dia kaya tapi dibalik itu dia selalu resah dan takut uangnya akan hilang. Takut suatu saat orang akan meninggalkannya ketika tidak ada harta tersisa. Orang yang kita lihat biasa-biasa saja, atau malah cenderung tidak punya, siapa tahu dibalik itu ia berusaha memperbaiki taraf hidupnya, namun juga tetap ikhlas menerima apa yang diberi Yang Di Atas.

Ketika kamu menanam kebaikan, ketelatenan, kesabaran, maka pada akhirnya kamu akan menuai keberhasilan, balas budi baik dari orang (yang mungkin sudah kamu lupakan pernah bertemu kamu di mana; pernah kamu tolong apa?), wawasan kebijaksanaan yang semakin luas. Kalau kamu menanam kerja keras di jalan yang baik dan halal, kamu akan menanam sukses yang berlangsung kontinyu, tidak hanya sekejap mata hilangnya.

Ini juga sama seperti kalau kita menanam sampah; menjadikan Jakarta terus menjadi “hutan beton”, kita akan menuai berbagai bencana. Dimulai dari banjir. Adat buang sampah di tempatnya yang susah banget diterapkan (nggak di kalangan atas, maupun kalangan bawah), pengembang terus-terusan “memaksimalkan” area tersisa di Jakarta untuk dijadikan perumahan, mall, dan pusat komersialisasi lainnya, pemikiran bahwa sungai hanya sekadar “air yang lewat’, tanpa ada kesadaran untuk menjaganya. Lantas kalau sudah begini, apakah kita hanya akan menyalahkan Pemda dan Pemprov DKI, menyalahkan orang-orang yang hidup dengan budaya jorok di bantaran kali saja -- yang justru sama saja dengan orang-orang seliweran di mall tapi suka asal lempar sampah ke jalanan?
Tentu tidak karena tidak bisa begitu.

Kesalahan ini kita emban bersama, kita perbaiki bersama, dan kita awasi pelaksanaan perbaikannya bersama. Beberapa waktu lalu saya berbincang-bincang dengan Alanda Kariza (penulis “Mint Chocolate Chip”, finalis CosmoGIRL! Of The Year 2006, penggagas organisasi “The Cure For Tomorrow”) dan teman-temannya di The Cure For Tomorrow mengenai kesadaran penduduk Indonesia -- Jakarta pada umumnya -- yang rendah tentang kebersihan lingkungan.

Alanda cs “curhat” bahwa mereka sudah kehabisan akal mengajak teman-teman seumuran mereka (apalagi yang lebih tua, biasanya mereka lebih bebal!) untuk membuang sampah di tempatnya, untuk menyimpan dulu sisa kertas/sisa kantong makanan di dalam tas sampai menemukan tempat sampah yang layak. Alasan mereka bermacam-macam: mulai dari keluhan akan kurangnya tempat sampah di Jakarta, terlalu sibuk, lupa, jawaban “iya, iya nanti” atau “tarsok” (ntar besok).
Ada juga yang mengatakan itu karena alasan ekonomi. Ini lebih tidak masuk akal lagi. Kalau kita cinta bumi ini, cinta tanah yang kita pijak untuk “numpang hidup”, mbok ya sudah seharusnya kita tahu diri, bukan? Dengan biaya seminimal mungkin -- malah tanpa biaya sama sekali -- kita bisa ikut mengkontribusikan kepedulian kita terhadap lingkungan. Beberapa cara tidak muluk yang bisa kamu terapkan antara lain:

• Buang sampah pada tempatnya. Atau, simpan dulu sampah di plastik/kertas di tasmu dan
saku celanamu sampai menemukan tempat sampah terdekat.
• Langsung tegur orang di sebelahmu yang membuang sampah sembarangan. Ajak dan
jelaskan dengan cara halus dampak fatal akibat tindakannya itu.
• Rawat tanaman dan lingkungan hijau di sekitarmu.
• Jangan menyumpahi (cursing) alam, termasuk bencana yang tengah melanda kita ini.
Tanamkan pikiran positif yang ingin selalu bersahabat dan menghormati alam. Ingat, lho, apa yang kita llemparkan” ke alam, itu pula yang akan alam lempar balik ke kita.
• Bagi yang memiliki teman/keluarga/kerabat yang bekerja di bidang properti (terutama
sebagai pengembang), ingatkan selalu untuk mengembangkan wilayah dengan konsep yang seimbang dengan daya dukung ekologisnya.
• Ikut organisasi berbasis pelestarian alam (biasanya non-profit organization) sebagai wadah u
ntuk menyalurkan aspirasi kita agar lebih terarah dan untuk refresh visi-misi kita tentang pentingnya isu ini.
• Terapkan konsep daur-ulang (reduce, reuse, recycle) dalam keseharian hidup kamu.

Beberapa link website yang mungkin akan mengubah paradigma kamu tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan adalah:

WWF Indonesia (
http://www.wwf.or.id/)
WWF Internasional (
http://www.panda.org/)
The Cure For Tomorrow (
http://thecurefortomorrow.blogspot.com)
Greenpeace (
http://www.greenpeace.org/international/)
Aku Sayang (
http://www.akusayang.com/)
ECO (
http://www.oneearth.org/)

Semoga alam dan kehidupan mau memberi kita kesempatan sekali lagi untuk memeliharanya dengan lebih baik.

Let’s give good deeds.


*Terima kasih untuk teman-teman TCFT yang mau bersusah-payah mengedukasi perihal proses daur ulang (recycling) dan pentingnya membuang sampah di tempat. Kegigihan kalian pasti akan membuahkan hasil.

Wednesday, January 03, 2007

Jadi remaja yang segar, sehat, bugar--dan tetap cool!

SUDAH tentukan apa resolusi 2007-mu ini? Ngomong-ngomong tentang niatan dan usaha menjadikan diri lebih baik ini, ternyata yang namanya resolusi tidak hanya berlaku bagi orang dewasa saja, tapi juga kalian para remaja. Nah, menjadi remaja Indonesia sendiri, dengan seabrek kegiatan mulai dari sekolah, les-les privat, PR dan tugas tanpa ampun, sampai agenda padat nan seru bersama teman-teman dan keluarga, bisa ngebuat badan kita overexhausted dan akhirnya jatuh sakit kalau tidak pandai-pandai menyikapinya.

Dan menelusuri balik masa remaja dulu, ternyata begitu banyak hal positif yang saya anggap remeh dan akhirnya terlewati. Membuat nyesel sekarang-sekarang ini. Walau lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, tentunya akan lebih baik kalau kamu melakukannya sejak dini, bukan?

Hasilnya? Wow, sangat, sangat luar biasa untuk jangka pendek, apalagi jangka panjang.

Jadikan kebiasan baik di bawah ini sebagai salah satu resolusi 2007-mu untuk menjadi fresh, healthy, fit, and cool teen people!

Minum air putih minimal 8 gelas sehari. Dulu saya lebih suka minuman teh botolan atau soft drink daripada ini. Hasilnya, bukannya memuaskan dahaga malah ngebuat makin haus!

Olahraga rutin 3 kali seminggu. Tidak perlu mahal-mahal harus ke fitness center. Bergerak secara fisik minimal selama 30 menit, seperti berjalan kaki dari sekolah/kampusmu ke halte bis terdekat sudah termasuk olahraga cardio yang menyehatkan.
Makan teratur. Jangan diet. Yang baik dan tepat adalah makan teratur--dalam porsi sedikit--dalam frekuensi sering. Makan utama 3 kali sehari adalah harus, namun sebagai selingan santaplah crackers, buah, maupun susu dalam porsi yang tidak berlebihan.
Minum susu dan Calcium. Minum susu rutin bikin gendut? Salah besar. Yang bikin gendut bukan susunya, tapi kemalasan kamu untuk berolahraga. Susu yang mengandung calcium tinggi atau tablet suplemen calcium sangat dibutuhkan untuk ‘tabungan’ calcium tubuh demi menjaga tulang yang kuat dan sehat. Terutama buat para cewek, ketika kita hamil, maka tubuh akan secara alami mengambil cadangan calcium di tulang. Jadi, kalau tidak kita isi-ulang, kebayang kan jadinya?
Smile! Ya teman-temanku, dengan senyum ringan dan tulus yang kita tebar pada orang lain, akan membangkitkan suasana enak di hati. Kalau kamu terbiasa melakukannya, hati dan jiwa kamu akan senantiasa bahagia. Men sana in corporisano, right?
Bangun pagi. Membiasakan diri bangun jam 5-6 di pagi hari tidak hanya membuat tubuh lebih bugar, tetapi juga melatih kedisiplinan kita.

Rest & relax. Tidur dan istirahat secukupnya. Tidak kurang atau lebih. Dalam sehari, beri kesempatan tubuh dan otak kita untuk beristirahat selama 7-8 jam. Kondisi ini juga berguna untuk memaksimalkan kerja pencernaan dalam mengolah makanan dan minuman yang masuk ke tubuh. Carilah selalu jati dirimu. Kegagalan, kesenangan, kesedihan, mood yang tidak jelas, kejutan-kejutan tak disangka akan selalu mewarnai hari-harimu, dan membentuk dirimu saat ini. Tanamkanlah prinsip bahwa kamu di esok hari harus lebih baik daripada kamu di hari ini. Sehingga kamu nggak pernah berhenti mencari jati dirimu yang sebenarnya.
Tetapkan tujuan yang akan dicapai. Buat tujuan realistis yang akan kamu capai dan nikmati bagaimana perjalanan kamu sampai ke sana. Hidup kamu akan jadi lebih berharga karena kamu memiliki sesuatu positif yang ingin kamu perjuangkan.
Enjoy life! Gagal mendapat peringkat 1? Tersisih dari pergaulanmu yang sekarang? Boleh kesal, tapi berikutnya nikmati saja. Cuma kamu yang bisa bilang ‘renungi, pahami, lalu nikmati’ atau ‘menyesali terus-menerus’. Pilihanmu itu ikut menentukan berapa lama kamu hidup, lho!
Berpikir positif. Setiap kejadian pasti memiliki berbagai macam sudut pandang. Dengan berpikir positif kamu akan bisa meneropong sudut-sudut pandang tersebut dan membuat kamu jadi lebih tenang. Berpikir positif juga ‘vitamin’ bagi hati kita.
Bersahabat dengan kegagalan. Kebanyakan orang Jepang akan bunuh diri ketika menghadapi kegagalan maupun saat harga diri mereka tercoreng, tapi kita orang Indonesia tetap ‘berani hidup’ walau segala bencana dan kesusahan menimpa kita. Itu karena kita berusaha menikmati hidup--apapun situasinya. Itu pula kelebihan bangsa kita yang seringkali kita remehkan.
Peduli dengan sekitarmu. Kamu akan capek sendiri kalau apa-apa terlalu terfokus ama diri sendiri. Jadi mulai sekarang, berbagilah kegiatan dengan sekitarmu: keluarga, teman-teman, tetangga, organisasi. Dengan begini sindrom “kesepian di tengah keramaian” bisa kamu minimalisir.
Coba hal baru, tapi tahu batas. Jangan jadi anak alim! Maksudnya di sini, jangan belum-belum kamu merasa ciut untuk melakukan hal-hal baru yang belum tentu sepenuhnya negatif dan malah bisa memperluas wawasanmu akan dunia non-formal maupun non-akademis saja. Clubbing bukan hanya identik dengan tim cheerleaders atau tim-tim 'gaul' aja. Perpustakaan bukan hanya tongkrongan kutubuku dan orang katro saja. Coba segala hal di sekeliling kamu, dengan syarat kamu tahu batas; yang positif diteruskan, yang negatif tentu di-stop.
Jangan merokok, mabuk, apalagi ngobat. Merokok bikin paru-paru bolong sampai akhirnya tempat bersarangnya kanker paru-paru. Keseringan minum liquor secara bertahap akan merusak liver. Sedangkan ngobat akan merusak syaraf, otak, sekujur tubuh sampai akhirnya mematikan kamu dalam kurun waktu yang tidak dapat ditebak. Keren melakukan semua itu? Lucunya sampai sekarang saya penasaran ama siapa yang pertama kali berkata demikian :p
Bikin fruit juice. Resepku adalah: pepaya + apel + pear. Cukup 1 gelas sehari dan rasanya manis alami kayak lolipop. Lebih baik mengganjal perut dengan ini daripada dengan junk food.

Dan yang paling penting adalah cintai dan hormati dirimu. What can I say about this? Karena tentunya kalau tidak, kamu nggak akan susah-susah meluangkan waktu membaca tulisanku ini ;)

Intinya, betapa kerennya kita kalau bisa menjadi sehat, bugar, dan berwawasan. Kalau kita gemuk, pasti ada caranya untuk menjadikan tubuh lebih kurus karena kegemukan pun tidak baik bagi kesehatan tubuh. Sedangkan kalau kita kurus, kita bisa mencari jalan (dan jalan itu banyak!) agar berat badan bertambah. Yang kulitnya gelap, tidak perlulah diputih-putih. Dan yang kulitnya putih, jangan terus-terusan ngedumel pengen jadi tan. Tidak masuk universitas negeri, tentunya masih banyak uni swasta yang bagus, kan? Pokoknya syukuri dan nikmati apa yang kalian miliki sekarang.

Indahnya hidup bukan karena banyaknya kesenangan yang terjadi dan keberhasilan yang kita capai, melainkan bagaimana kita memandang, menyikapi, dan merasakan tiap kejadian yang kita alami.

Selamat Tahun Baru 2007.
Apapun resolusimu tahun ini, semoga itu memberi kamu berkah dan pembelajaran yang berharga.

Monday, December 11, 2006

Berbagi Cinta

SUATU pagi di parkiran Pasar Pagi Pangkalpinang, P. Bangka, saya menemukan gundukan kecil berwarna kecoklatan di depan mobil.
Ternyata itu seekor puppy!

Dan sepertinya ia seekor anjing liar yang sebatang kara. Di situ ia meringkuk dengan kedipan mata yang sangat lambat, entah itu karena takut atau kelaparan. Saya yang memang pecinta binatang dan besar di keluarga yang demikian juga, tentu tidak berpikir panjang untuk melakukan pertolongan pertama... tapi apa? Bagaimana?

Kalau di Jakarta, tentu dengan mudahnya si kecil ini bisa dilarikan ke dokter hewan. Snack anjing macam “Alpo”, selimut maupun susu pasti juga mudah dicari. Tapi, sekarang kan saya tidak berada di sana.

Jadilah saya tidak konsen selama di pasar. Bawaannya ingin kembali ke parkiran lagi. Selama menilik daftar belanjaan, pikiran selalu dipenuhi “Apa yang sebaiknya saya lakukan untuk si puppy kecil itu?”, hingga saya dan suami sampai pada sebuah kios kue jajan pasar.
Di sana, langsung saja saya beli donat tabur meises untuk (karena pastilah ia nggak suka kalau dikasih serabi!), dan segera berlari ke arah parkiran. Awalnya si kecil hanya menjilati meisesnya saja, tapi dalam hitungan detik ia mulai melahap seluruh donat.

Pemandangan biasa?

Tidak bagi saya. Entah kenapa, saat itu saya langsung merasa sejuk.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa tindakan saya ini berlebihan, apalagi kalau dilihat dari corak sebagian besar masyarakat Indonesia dimana hidup bersama binatang (peliharaan atau bukan) bukanlah hal yang biasa.

Tapi saat itu saya sadar bahwa saya telah berbagi cinta, seremeh apapun itu. Dan naluri dasar yang ingin terus membagi perasaan positif itu ternyata ada di diri tiap individu.

Ketika kita membaginya dengan keluarga, kekasih, teman, binatang, maupun tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita, hal itu membuat diri kita bagai seorang “pahlawan”. Kita telah menyelamatkan hari itu.

Lalu, kita menginginkan sensasi perasaan itu lagi.

Dan tahukah, hal itulah yang akan memicu kita untuk terus berbuat baik--terhadap siapapun dan apapun--hingga akhirnya hati terbiasa untuk membagi tanpa berpikir “Akan dapat apa ya saya sebagai kembaliannya?”

Dimulai dari hal kecil di sekitar, sejak saat itu saya selalu berusaha mendengarkan apa yang nurani bisikkan. Biasanya si nurani ini nggak pernah teriak-teriak--ia hanya berbisik, namun ‘kena’. Tapi yang acapkali terjadi adalah kita cenderung cuek, sejelas apapun bisikan itu terdengar. Hingga lewatlah momen tersebut: kita terus berjalan, berlalu, tanpa berhenti.

Sekarang si puppy seharusnya jadi lebih sehat dan kuat. Hidupnya akan terus bergulir, begitu juga saya. Namun saya masih tetap berpikir: mulai dari mana lagi ya saya akan membagi cinta ini?

Saya sungguh bersyukur karena daftarnya masih panjang.


*Untuk Spotty dan Brownie: semoga tumbuh besar dan tambah kuat.

Monday, November 20, 2006

Blog dalam tahap pengembangan

Terima kasih sebelumnya untuk Jenny Jusuf, Meiggy Marwi, Haqi, Vita Avianty, Olga, Mila Kania, Oryza, teman-teman milis dan pembaca yang tidak bisa disebut satu persatu, Mbak Dewi Lestari, Mbak Prima Rusdi, Mas Monty Tiwa, Mas Hilman Hariwijaya, Pak Atmojo 'Cerkit' atas dukungan dan pembelajaran...

...sampai saya melangkah di halaman ini.



Salam,
Sitta Karina
www.sittakarina.com